Socioculture merupakan suatu pembahasan general yang mengulik realita kehidupan sehari-hari dengan cara sederhana namun mendalam. Melalui pembahasan ini diharapkan bisa memberikan pengetahuan, perspektif dan pemahaman yang berbeda sebagai komponen pelengkap dalam memetakan setiap tindakan yang ada pada lingkungan masyarakat.

pembelajaran yang efektif adalah pembelejaran yang diterapkan secara nyata
Share:
Pekerjaan seberat apapun akan menjadi ringan jika tidak dilakukan 😂
Share:

keturunan etnis tionghoa


Beberapa minggu yang lalu, tepatnya pada pertemuan ke-3 di kelas saya, saya memberikan tugas individu kepada seluruh mahasiswa untuk kembali menggali nilai-nilai nasioanal sebagai identitas dan jati diri dari suatu negara yang bernama Indonesia. kenapa tugas itu saya berikan, alasanya adalah saya prihatin tentang pengimplementasian nilai-nilai nasional di masa millenial ini. Saya khawatir karena dengan adanya perubahan dan teknologi yang semakin modern ini, semangat dan nilai nasionalisme di kalangan remaja semakin terkubur dan menghilang oleh pembaruan yang ada. Singkatnya, waktu berlalu dan deadline sudah tiba.

Dalam tugas mahasiswa yang saya baca, ada beberapa hal menarik yang diceritakan oleh mahasiswa saya. Pada kalimat pembuka, hal ini menyiratkan suatu pengakuan sekaligus kebanggaan dari identitas yang di milikinya. Dia merupakan warga keturunan china tionghoa yang tinggal di daerah Kelapa Gading, Jakarta utara. Meskipun bukan asli dari etnis tionghoa, tetapi tetap saja sama. Sama-sama warga Indonesia dan sebagai penyusun dari identitas nasioanal yang ada.
Salah satu ciri khas masyarakat tionghoa di Kelapa Gading yang paling kental adalah dari sisi social ekonominya. Mengapa social ekonomi, karena hampir sebagaian besar warga melakukan kegiatan usaha dagang baik kecil, menengah ataupun dalam skala besar. Hal tersebut tidak terkecuali dengan apa yang dilakukan oleh keluarganya. Dengan jenis kegiatan multiniaga yang di yakini sebagai jalan hidupnya menjadikan mereka berlomba-lomba dalam menjemput harapan dan kesuksesan itu. Berikutnya dari gaya dialeg dan sosialisasi dengan warga sekitar. Gaya dialeg yang dilakukan oleh warga etnis tionghoa dalam kesehariannya sebenarnya tidak jauh berbeda dari masyarakat umumnya, hanya saja ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyepakati arti dan komunikasi yang dilakukan. Seperti misalnya penggunaan istilah panggilan sanak saudara, penyebutan nilai nominal, urutan kata dan banyak yang lain. Dengan begitu orang awam pun mengenali bahwa dari istilah dan gaya dialeg yang digunakan adalah gaya dialek masyarakat tionghoa di sana. Meskipun secara social ekonomi dan dialeg berbeda, tetapi untuk masalah kerukunan dan kehidupan social di sana sama. Sama-sama membaur dan melengkapi satu sama lainnya. 

Setelah mengulas sedikit sisi social ekonominya, warga keturunan tionghoa pun juga memiliki kebiasaan yang menarik.yaitu perayaan hari raya imlek. Berdasarkan kepercayaan, setiap shio seperti shio kelinci, shio sapi, shio babi, shio kambing tersebut memiliki keuntungan (hoki) masing-masing di setiap tahunnya. Contohnya, tahun ini adalah tahun ayam. Maka hiasan-hiasan di angpao dan di tempat-tempat yang merayakan Imlek akan dihiasi dengan gambar ayam. Selain itu, beberapa hari sebelum perayaan imlek, jalanan di kelapa gading dan pusat perbelanjaan sudah di hiasi dengan hiasan khas cina, seperti pohon yang tidak bertumbuh buah tetapi tergantung amplop angpao di dahannya, lampion merah, dan hiasan-hiasan lain dengan dominan warna merah. Tidak juga ketinggalan makanan-makanan yang sering dibeli saat imlek, yaitu kue bulan, dodol cina, dan jeruk mandarin. Biasanya makanan-makanan tersebut untuk diberikan kepada saudara atau tetangga. Umumnya ketika perayaan berlangsung, semua masyarakat menggunakan baju khas tradisional cina yaitu berwarna merah menyala.
Bukan tanpa alasan mereka memilih warna merah. Warna merah bagi masyarakat tionghoa memiliki arti sebagai symbol keberuntungan dan kebahagiaan. Dengan begitu mereka berharap nasib baik akan menghampirinya setiap tahun. Sama seperti hari raya yang lain, perayaan hari raya imlek juga tidak hanya sekedar sebagai pengharapan atas nasib baik yang ingin di carinya, tetapi juga membahas tentang bentuk komunikasi dan berinteraksi antara sanak, saudara yang lain yang sudah lama tidak bertemu. 

Meskipun secara umum terdapat perbedaan di lingkungan tempatnya tinggal, tetapi hal tersebut tidak menjadikan perpecahan antara satu dengan yang lainnya. Terbukti dari hasil pengamatan yang di lakukannya ternyata nilai-nilai persatuan, kesadaran masing-masing individu, aktifitas sosialnya masih terjaga dalam menjalankan kehidupannya. Dari sini saya bisa menilai bahwa point yang sengaja di munculkan oleh mahasiswa saya adalah meskipun berbeda baik dari segi dialeg, Bahasa, etnis, budaya dan agama tetapi kehidupan di sana masih tetap sama yaitu kehidupan yang beriklim Indonesia, dan ini menjadi gambaran nyata dari identitas local yang masih tetap eksis meskipun perubahan zaman menjadi prioritas utama namun tidak melunturkan perbedaan yang kita punya. INDONESIA….
Share:

Jerat Hukum dan Pilihan Rasional Pelaku Korupsi


Selain gosip selebriti, Ternyata ada juga pembahasan abadi yang tak pernah habis untuk dibicarakan, pembahasan itu adalah korupsi. Tindak korupsi bisa saya analogikan seperti halnya sebuah tempat yang banyak memiliki jenis dan variant makanan, mulai dari makanan yang berbeda sampai jenis makanan yang sama. Mulai dari yang kelas ringan sampai pada yang kelas berat. Begitu pula dengan korupsi, mulai dari tingkatan sederhana sampai pada tingkatan kompleks. Mulai dari masalah yang biasa sampai masalah kelas kakap. Hampir diseluruh dunia, korupsi menjadi permasalahan utama yang sampai saat ini sangat susah untuk dihentikan. Beragam cara sudah dilakukan, mulai dari himbauan dan pantauan masyarakat, aturan yang tegas dan mengikat, sanksi dikeluarkannya seseorang dari pekerjaannya sampai jerat hukum yang memaksa. Tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil yang optimal, justru malah menjadi semakin parah. Korupsi merupakan suatu virus yang sangat mudah menjalar pada setiah tubuh manusia. Efek yang terjadi adalah kelumpuhan dan ketidaksadaran secara perlahan. Jika hal tersebut dibiarkan, sudah bisa dipastikan tubuh seseorang tersebut akan hancur. Begitu juga dengan perilaku tindakan korupsi yang terjadi di Indonesia ini, jika tidak segera di dicegah dan diobati maka sudah barang tentu negara ini akan hancur secara perlahan karena ulah korupsi itu sendiri.

Tingkatan dan rasionalisasi pelaku korupsi
          Korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio/corrumpere yang berarti busuk, rusak, memutarbalikkan. Secara harafiah korupsi adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dengan menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan secara tidak sah demi keuntungan pribadi/kelompok. Berarti dalam pembahasan ini yang menjadi kata kuncinya adalah “kekuasaan dan kewenangan secara tidak sah demi keuntungan pribadi/kelompok.” Korupsi bisa dikatakan sebagai salah satu penyimpangan sosial yang harus disadarkan dan menjadi tanggung jawab bersama. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi koruptor yaitu pengaruh globalisasi. tidak adanya perhatian dan apresiasi yang diberikan, hilangnya nilai-nilai agama, moral dan etika serta banyak lagi yang lainnya. Korupsi juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam setiap aksinya, pada tingkatan yang sederhana yaitu pada tingkatan Batrayal of trust (tingakat kepercayaan). Kepercayaan merupakan modal utama dalam melakukan interaksi dan kontrak sosial antara orang yang satu dengan orang yang lain, tanpa kepercayaan sepertinya mustahil untuk bisa mewujudkan suatu kesepakatan. Dalam banyak permasalahan, tingkatan kepercayaan inilah yang bisa dengan mudah untuk dilakukan. Tidak membutuhkan jabatan/kekuasaan, hanya membutuhkan keterampilan dalam pengolahan kata-kata. Jika dalam tingkatan yang sederhana semua orang bisa melakukan (termasuk anak kecil) maka tentu bisa dipastikan hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang membawa dampak buruk bagi pelaku dan lingkup sekitarnya. Berikutnya pada tingkatan Abuse power. Suatu tingkat yang menekankan pada status/jabatan yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan tindakan korupsi. Tidak dipungkiri bahwasanya status atau jabatan yang dimiliki oleh seseorang turut menentukan kebijakan dan kekuasaan yang dimilikinya. seperti halnya yang dilakukan oleh seorang bupati di suatu wilayah, karena memiliki jabatan yang tertinggi dia bisa melakukan tindakan semaunya. Termasuk tindakan korupsi. Saya rasa hal tersebut sudah banyak dilakukan oleh pemimpin atau petinggi di Indonesia ini. secara tidak langsung, jabatan yang dimiliki oleh seseorang merupakan suatu pembagian kelas yang dimiliki antara penguasa dengan bawahannya. Penguasa memiliki wewenang, bawahan memiliki kesadar. Sehingga dengan demikian status atau jabatan inilah yang menjadi kekuasaan sebagai batasan, sekaligus pendorong dalam melakukan tindakan. Dan yang terakhir adalah Material Benefit. Korupsi pada level ini merupakan tingkatan yang paling tinggi dan umumnya terjadi di indonesia. Tidak hanya lagi membahas tentang kekuasaan dalam mendapatkan suatu hal yang di inginkan, melainkan sudah menjalar sampai pemenuhan barang dan meteri yang menurutnya memiliki nilai nominal yang tinggi.


Rasionalisasi dalam perspektif sosiologi
          Dalam perspektif sosiologis, maraknya tindakan korupsi yang terjadi di Indonesia ini bisa dikaji melalui pendekatan-pendekatan ilmiah. Meminjam istilah dari marx weber tentang verstehende atau teori tindakan rasional, alasan seseorang melakukan tindakan korupsi dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, tindakan yang dilakukan secara terukur dan rasional (zweck rational). Tentunya, masing-masing tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang memiliki tujuan dan maksud tersendiri. Untuk bisa menjalankan aksinya, seseorang juga harus bisa memperhitungkan dan mempertimbangan secara matang tentang hasil kesusksesan yang akan akan diterimanya. Jika keberhasilan jauh lebih besar dibandingkan usaha dan resiko, maka sudah tentu bisa dipastikan seseorang tersebut memiliki peluang lebbih besar untuk melakukan dan berpengharapan sukses, tetapi jika sebaliknya maka hal tersebut akan berpengaruh pada niat dan usaha si pelaku. Dalam hal ini keberhasilan masa lalu juga memiliki peranan besar untuk seseorang melakukan suatu tindakan. Semakin sering sesorang memiliki keberhasilan di masa lalu maka juga semakin besar seoserang melakukan tindakan yang sama di masa yang akan datang. Dan hal itu sangat relevan dengan potret dan gambaran nyata pelaku tindak korupsi di Indonesia ini. Berbicara tentang keberhasilan masa lalu secara tidak langsung juga membahas alat dan kekuasaan negara. Dalam hal ini hukumlah yang menjadi fokus dalam pembahasan ini. Keberhasilan masa lalu diartikan sebagai proses hukum yang ada dalam suatu negara. Jika kenyataan bisa dibeli dengan materi apakah masih pantas kita berbicara hukum ? tentunya hukum tidak memihak kepada benar atau yang salah melainkan memihak kepada kenyataan yang ada. Dengan kata lain sistem dan kekuatan hukum di Indonesia belum secara optimal mengayomi dan melindungi kebenaran fakta dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. 

          Kedua, tindakan yang dipengaruhi oleh nilai (wert rational). Umumnya, nilai yang berkembang di masyarakat merupakan hasil kesepakatan bersama dalam hal kebaikan yang berisikan nilai spiritual, moral dan etika. karena ditempa dari proses yang panjang dalam memperkenalkan norma sosial di kehidupan kita sehari-hari, hal tersebut kemudian membentuk suatu kebiasaan dan menjadikan itu sebagai identitas masyarakat Indonesia. Misalnya saya hendak pergi kesuatu tempat dengan menggunakan moda transportasi umum, di tengah perjalanan ada seorang nenek-nenek atau wanita hamil. Maka sudah menjadi sikap saya untuk memberikan tempat duduk yang seharusnya saya duduki meskipun sama-sama membayar dan memiliki hak yang sama. Di sinilah penjelasan dari nilai tersebut. Tetapi yang saat ini menjadi persoalan adalah, kesepakatan untuk menggunakan nilai-nilai yang negatif sebagai upaya untuk memperkaya atau menguntungkan diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, perubahan dan perkembangan masyarakatnya pun juga bergeser menuju perkembangan masyarakat yang baru. Entah dengan kebiasaanya, gaya hidupnya atau pemikirannya. Hal inilah tampaknya yang juga mempengaruhi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat untuk bisa melakukan upaya pemenuhan kebutuhan diri sendiri dengan mengambil hak orang lain. Dengan kata lain, sikap dan tindakan yang dilakukan oleh koruptor merupakan akumulasi dari kebiasaan yang salah dalam memaknai nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat luas. Dan kebiasaan tersebut semakin berjaya karena didukung oleh sistem hukum dan kontrol masyarakat yang lemah.
           Ketiga, tindakan yang dipengaruhi oleh emosi atau perasaan (affectual). Emosi atau perasaan merupakan sebuah intuisi yang dimiliki oleh masing-masing individu untuk menggambarkan maksud dan keinginan tertentu yang bersumber dari nurani. Emosi atau perasaan bisa dianalogikan sebagai tentakel yang sangat sensitif karena menerima perubahan dari lingkungannya. Begitu pula dengan  tindakan yang dilakukan oleh seseorang baik dalam konteks baik atau buruk, salah atau benar. Selain dari rasional dan nilai yang berkembang di masyarakat luas, faktor emosi atau perasaan juga turut memberikan sumbangan terbesar dalam memunculkan suatu tindakan. dan yang terakhir adalah traditional. Yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan kepercayaan atau mitos yang berkembang di lingkungan sekitar orang tersebut berada. Mistos, merupakan bentuk komunikasi yang tidak mementingkan objektivitas dan kebenaran dari kenyataan, melainkan sebuah komunikasi yang hanya menginginkan berjalannya aturan dan perintah yang dibentuk sebelumnya tanpa ada perubahan sedikitpun. Dalam hal ini, tindakan korupsi yang dilakukan oleh oknum juga dpengaruhi oleh adanya stigma sebelumnya bahwa penguasa yang pintar adalah penguasa yang bisa memanfaatkan power dan keduduknya termasuk dalam upaya pemenuhan kebutahan pribadi meskipun dilakukan dengan cara yang tidak sah. Hal tersebut bisa saja terjadi karena pelaku korupsi menganggap capaian yang diperoleh saat ini tidak lain dan tidak bukan merupakan hasil usaha pada waktu pencalonan kampanye dulu, dan ditempatkan sebagai upaya untuk mengganti kerugian atas pengorbanan yang sudah di lakukan. Sehingga secara general tujuan dan tindakan yang dilakukan oleh koruptor bukan pada pengabdian atas negara, melainkan rasioanalisasi dari kepentingan pribadi yang dilengkapi dengan kalkulasi untung rugi.

Share:

Ideologi dan Gaya Hidup


Saya mengawali tulisan pertama ini dengan mengulas kembali apa saja yang menjadi realita kehidupan sehari-hari, yang pada khususnya membahas antara ideology yang menjadi landasan tujuan negara dengan suatu pemenuhan gaya hidup yang tidak seimbang jika itu di pertukarkan. Berkaitan dengan hal tersebut saya juga ingin merefleksikan kembali capaian dan nilai-nilai nasionalisme yang seharusnya bisa menjadi penggerak untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam meneruskan cita-cita para pejuang bangsa, yang biasanya tergambar dari antusias dan sejumlah seremoni yang ada pada bulan nasionalisme ini yaitu Agustus membara.

Ideology merupakan suatu fondasi utama, benteng, tiang penyangga dari suatu tindakan dan usaha yang akan dilakukan oleh seseorang dalam meraih apa yang menjadi mimpi dan tujuan hidupnya. Berikutnya, ideology juga merupakan suatu hasil pemikiran, cipta, rasa dan keyakinan yang di percaya bisa membawa suatu perubahan jika hal tersebut dilakukan. Begitu juga dengan ideology Pancasila yang menjadi bintang penuntun bagi terciptanya persatuan, kesejahteraan, keadilan serta perdamaian abadi bagi seluruh rakyat Indonesia dalam meraih segala cita-cita yang di impikannya.

Begitu juga dengan usaha dan proses panjang yang di lakukan oleh para pejuang dalam menyusun kemerdekaan, sehingga saat ini kita bisa merasakan hasil dan berbagai kemudahan dalam menjalankan rutinitas kita sehari-hari. Kesaktian dan sumbangsih ideology Pancasila terhadap capaian yang kini bisa kita nikmati, tampaknya juga tidak perlu di ragukan lagi. Hal tersebut menjadi bukti yang nyata bahwa Pancasila merupakan ideology dari hasil karya nusantara yang di anugrahkan Tuhan YME untuk negara kita Indonesia tercinta, sekaligus sebagai simpul dalam menghadapi berbagai persoalan. Tetapi tampaknya saat ini Pancasila sebagai ideology bangsa hanya menjadi sebuah simbolisasi, bahkan tag line semata dalam memframing suatu citra yang ingin di tonjolkan oleh beberapa personal ataupun kelompok kepentingan. Pancasila yang dulu menjadi agung dan di eluh-eluhkan, kini hanya menjadi suatu lelucon dalam sebuah adegan drama dan hiburan. Menjadi alat dalam menyudutkan seseorang, menjadi bahan wacana dalam meraih simpati janji kepentingan dan terlebih lagi, Pancasila kini hanya menjadi suatu lagu-laguan di kalangan pelajar (itupun kalau semua ingat dan hafal) serta pengukur uji kelayakan. Sangat miris sekali, seolah perjuangan para pahlawan rela hanya di bayar dengan senyum lelucon generasi penerus bangsa. Andai mereka tau bagaimana proses perjuangan itu diraih, andai kata mereka tau bagaimana ibu pertiwi merintih menangis, dan andai mereka (pahlawan nasional) tau bagaimana kelakuan anak cucunya dalam meneruskan cita-cita tujuan bangsanya, niscaya usaha titik nadir itu tidak akan diteruskan hingga batas akhirnya.

Di satu sisi, pesatnya teknologi dan perkembangan zaman juga menjadi penanda dan aspek penting yang tidak bisa kita hindarkan. Kehidupan terus melaju dengan segala perubahannya, artinya semua itu bergerak dinamis mengikuti arus perkembangan yang ada. Mulai dari ilmu pengetahuan, cara pandang seseorang, sektor mata pencaharian, bentuk komunikasi, politik, budaya bahkan sampai gaya hidup juga tidak terlepas dari pesatnya perkembangan zaman. Banyaknya inovasi yang dilakukan oleh generasi milenial saat ini menjadikan angin segar dalam me recall kebudayaan dan identitas yang selama ini dianggap usang oleh banyak orang. Dan hal tersebut tampaknya menjadi suatu formula yang pas dalam upaya memperkenalkan kembali tentang potensi yang kita miliki. Tetapi disatu sisi yang lain,  perkembangan zaman dan teknologi yang pesat ini juga memunculkan generasi sampah dan pola pikir yang salah dalam memahami dasar negara dan ideology bangsa. Setidaknya negara telah mencatat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan penyelewengan ideologi bangsa, mulai dari artis yang terjerat masalah hukum akibat menghina symbol dan lambang negara, menjadikan ideologi negara (Pancasila) sebagai bahan lelucon dan hiburan semata, munculnya konten negative/radikalisme di media social, penggadaian identitas hanya untuk mendapatkan respon dan perhatian bahkan sampai menjadikan pembahasan ideologi sebagai upaya dalam pemenuhan kepentingan personal tanpa ada kejelasan dan kualifikasi khusus dalam membahasnya. Terlepas dari semua itu saya yakin masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pengimplementasian nilai-nilai pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari. Disinilah letak permasalahan yang menjadi perhatian dan focus pembahasan Bersama. Seharusnya dengan semakin majunya teknologi dan perkembangan zaman, maka semakin maju pula pola pikir dan peradaban manusia. Hal tersebut di tunjukkan melalui proses rasionalisasi yang mendalam untuk bisa menentukan mana yang baik dan mana yang benar, pengklasifikasian dan pengidentifikasian apa saja yang menjadi kekuatan dan hambatan, meningkatnya kesadaran diri dan budaya malu dalam setiap masing-masing individu serta meningkatnya kesadaran dalam menjalankan aturan dan perannya di lingkungan masyarakat.

Menjadi modern tidak berarti menjadi bebas tanpa kendali, menjadi liar dalam teknologi. Tetapi menjadi modern merupakan intuisi yang harus di ikuti sebagai bekal sekaligus penanda dalam mengikuti kontestasi yang disuguhkan oleh beragamnya kenyataan hidup ini, tentunya dengan cara yang tidak berseberangan dengan hukum dan penerapan ideologi dasar negara. Kemunculan berbagai fitur berbasis social media serta penggunaan teknologi lainnya seharusnya menjadi modal yang utama dalam menghimpun semangat dan kekuatan baru untuk memperkuat nilai-nilai nasionalisme. Peran anak muda dengan berbagai kemampuan dan kreatifitasnya di yakini sebagai komposisi yang sangat ideal dalam mewujudkan negara yang berdaulat, mandiri dan berkharakter jati diri Indonesia. Semoga ulasan ringan ini bisa menjadi triger untuk kita kembali memahami dan mengimplementasikan nilai dasar negara dalam kehidupan kita.


Share:

Popular Posts

unggulan

pembelajaran yang efektif adalah pembelejaran yang diterapkan secara nyata

random posts

featured video

Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Label Cloud